ID
UnduhUnduh

Cara menjaga pertemanan dari kejauhan

Redaksi Miqo · 3 sumber

Mengapa hubungan memudar meski tak ada yang bertengkar

Sebagian besar kedekatan tumbuh bukan dari percakapan, melainkan dari kebetulan berbagi ruang. Pada 1950-an, para psikolog menggambarkan hal sederhana: di kompleks hunian mahasiswa, orang berteman dengan mereka yang pintunya lebih dekat dengan pintu mereka sendiri. Bukan dengan orang yang paling menarik - melainkan dengan orang yang mereka lewati setiap hari. Kamu pindah, dan arus pertemuan kebetulan itu terputus. Yang tersisa hanyalah hal-hal yang sengaja kamu lakukan.

Lalu mekanisme kedua mulai bekerja. Pada 2014, para peneliti mengamati catatan panggilan sekelompok kecil lulusan SMA selama satu setengah tahun: mereka baru mulai kuliah dan bekerja, dan banyak yang pindah. Setiap orang memiliki pola tetap dalam membagi perhatian: berapa banyak yang diberikan kepada orang pertama, berapa banyak kepada orang kedua. Polanya tetap sama - yang berubah adalah nama-nama di baris teratas. Tempat dalam lingkaran terdekat tidak bertambah: tempat itu diisi oleh orang yang kini berada di dekatmu.

  1. 5 orang terdekat
  2. 15 teman dekat
  3. 50 kenalan baik
  4. 150 kenalan

Angka-angka ini hanya perkiraan dan masih diperdebatkan, tetapi intinya tetap sama: tempat di bagian atas hanya sedikit. Teman yang jauh tidak akan bertahan di sana dengan sendirinya - ia bersaing mendapatkan tempat dengan orang yang kamu temui setiap Selasa.

Mengapa hal-hal kecil lebih efektif daripada panggilan panjang yang jarang

Strategi yang umum adalah menumpuk cerita lalu menelepon setiap beberapa bulan untuk mengobrol panjang. Masalahnya, percakapan seperti ini menuntut laporan: menceritakan kembali pekerjaan, kepindahan, dan keadaanmu. Itu melelahkan, jadi panggilan ditunda, dan jedanya makin panjang dengan sendirinya. Pesan-pesan kecil melakukan hal sebaliknya: mengembalikan konteks bersama. Ia tahu nama atasanmu, kamu tahu bagaimana renovasi rumahnya berakhir. Percakapan kembali dimulai dari tengah, bukan dari awal.

Apakah panggilan video menjaga kedekatan sebaik pertemuan langsung

Suara dan video memberi rasa terhubung yang lebih kuat daripada berkirim pesan - hal ini terlihat baik dalam survei maupun eksperimen kecil. Namun, apakah panggilan dapat menjaga pertemanan sebaik pertemuan langsung, belum benar-benar diuji. Lebih jujurnya: panggilan efektif menjaga konteks, tetapi kurang mampu menggantikan kehadiran.

Jadi, pertemanan jarak jauh bertahan bukan karena kuatnya perasaan, melainkan karena jadwal. Hal yang dulu disediakan oleh lingkungan tempat tinggal bersama, kini harus disediakan oleh kalender.

  1. Tentukan waktunya, bukan sekadar niat. "Nanti kita telepon kapan-kapan" tidak akan bertahan melewati minggu pertama yang sibuk. Yang efektif adalah waktu berulang: misalnya, Selasa malam setiap dua minggu.

  2. Kirim hal-hal kecil, bukan rangkuman. Foto antrean, satu kalimat tentang atasanmu, meme yang relevan. Itu bukan hal sepele, melainkan pertukaran konteks.

  3. Mulai kegiatan bersama. Menonton serial satu episode per minggu, bermain gim, atau membaca buku. Kalian punya topik yang tidak membutuhkan kabar terbaru tentang kehidupan masing-masing.

  4. Tentukan tanggal pertemuan dari jauh-jauh hari. Meski tanggalnya masih jauh. Sebuah tanggal mengubah pertemanan dari kenangan menjadi rencana.

Lanjutkan membaca di aplikasi Miqo

Masih ada 1 menit bacaan, lalu kuis di akhir. Temukan di “Hubungan → Persahabatan”

Kode QR untuk mengunduh aplikasi Miqo

Arahkan kamera ponsel ke sini untuk membuka App Store atau Google Play.

Sumber

  1. Festinger, Schachter, Back, 1950
  2. Saramaki et al., PNAS, 2014 - "Persistence of social signatures in human communication"
  3. lapisan lingkaran sosial menurut Dunbar