Apa yang Diamati
Pasangan diminta membahas hal yang diperdebatkan, lalu percakapan itu direkam. Setelahnya, rekaman dianalisis detik demi detik: siapa mengatakan apa, seperti apa ekspresi wajahnya, dan bagaimana nada bicaranya berubah. Isi konfliknya hampir tidak penting - pasangan yang bahagia membahas topik yang sama persis dengan pasangan yang tidak bahagia.
Logikanya jelas. Dua pola pertama merusak rasa hormat, dua pola berikutnya merusak kemungkinan untuk mencapai kesepakatan. Pasangan yang sudah terbiasa melakukannya sebenarnya tidak lagi bertengkar soal sampah: setiap percakapan berubah menjadi ujian tentang siapa yang lebih buruk.
Sekarang, soal persentase bombastis
Pengamatan ini biasanya diceritakan begini: peneliti memprediksi perceraian dari percakapan singkat dengan ketepatan sekitar 90%. Angkanya memang menarik, tetapi diperoleh dengan cara khusus: rumusnya disusun menggunakan pasangan yang sama dengan yang kemudian dipakai untuk mengujinya.
Dengan cara itu, data yang sudah diketahui bisa dijelaskan hampir sempurna, sementara ketepatannya pada pasangan baru ternyata jauh lebih rendah. Ini bukan berarti keempat tanda tersebut dibuat-buat: peneliti lain juga menemukannya. Artinya hanya, tidak ada yang bisa memprediksi nasib pasangan tertentu dari 15 menit percakapan.
Keempat tanda tersebut teridentifikasi dengan andal, tetapi perceraian tidak bisa diprediksi dari tanda-tanda itu
Ada pengamatan kedua yang lebih kuat. Dalam percakapan pasangan yang hubungannya stabil, setiap ucapan menyakitkan diimbangi oleh beberapa respons hangat: lelucon, persetujuan, sentuhan, atau upaya meredakan ketegangan. Yang penting bukan tidak adanya pertengkaran, melainkan perbandingan di dalamnya.
Itulah sebabnya pertengkaran tanpa satu pun ucapan kasar bukan tanda hubungan yang sehat. Pasangan yang sama sekali tidak pernah bertengkar sering kali hanya sudah berhenti berusaha. Perbedaannya bukan pada kerasnya suara, melainkan pada apakah rasa hormat masih ada di antara ucapan mereka.
Dalam pertengkaran, apa yang lebih berguna diperhatikan daripada topiknya?
Bisakah masa depan pasangan diprediksi dengan andal dari pertengkaran singkat?
Sumber
- Empat pola destruktif dan pengamatan terhadap pasangan berasal dari karya John Gottman pada 1990-an. Kritik terhadap ketepatan prediksi perceraian yang diklaim berasal dari Richard Heineman dan Nicholas Gibb pada 2010-an
Selanjutnya di seri “Pertengkaran dan berbaikan”
4 artikel lengkap di situs, 4 lagi di aplikasi
