ID
UnduhUnduh

Di Mana Mencari Kehidupan di Tata Surya

Redaksi Miqo · 2 sumber

Mengapa mencari air, bukan kehidupan itu sendiri

Kita hanya tahu cara mengenali satu jenis kehidupan, yaitu kehidupan kita sendiri. Di dalamnya, air berfungsi sebagai pelarut, karbon menjadi kerangka molekul, dan aliran energi menjaga reaksi kimia tetap jauh dari keseimbangan. Berdasarkan tanda-tanda itu, kita bisa membuat instrumen lalu mengirimkannya sejauh satu miliar kilometer. Namun, kita tidak bisa membuat instrumen berdasarkan kemungkinan bahwa semuanya bekerja dengan cara berbeda. Karena itu, strategi pencarian ini secara harfiah disebut "ikuti air".

Dulu, orang mengira air cair hanya ada di sabuk sempit di sekitar Matahari: jika lebih dekat, air akan mendidih dan menguap; jika lebih jauh, air akan membeku. Satelit-satelit Jupiter dan Saturnus membatalkan anggapan itu. Mereka dipanaskan bukan oleh cahaya, melainkan oleh gaya pasang surut: planet yang sangat besar meregangkan dan menekan satelit di orbit yang lonjong, gesekan di dalamnya menghasilkan panas, dan samudra asin tetap bertahan di bawah es. Panasnya datang dari bawah, dari bagian dalam yang berbatu. Daftar kandidat pun bertambah, dan semuanya mulai diperiksa dengan urutan yang sama.

  1. Cari air. Bukan es atau uap, melainkan cairan. Gravitasi, medan magnet, dan cara permukaan merespons gaya pasang surut dapat mengungkap keberadaannya.

  2. Cari energi. Di bawah lapisan es setebal beberapa kilometer, tidak ada cahaya. Jadi, ada sesuatu yang lain: panas pasang surut atau reaksi air dengan batuan panas.

  3. Cari unsur kimia. Karbon, nitrogen, fosfor, garam, yaitu bahan dasar untuk menyusun molekul. Semua itu dicari dalam semburan dan endapan danau purba.

  4. Cari ketidakseimbangan. Gas yang cepat terurai tetapi tetap ada pasti terus dipasok oleh sesuatu. Ini belum berarti kehidupan, tetapi cukup menjadi alasan untuk mendekat dan mengamati.

Empat lokasi: Mars dan tiga bulan es

Mars adalah satu-satunya dari empat lokasi yang bisa didarati dan digali. Tidak ada air cair di permukaannya: atmosfernya terlalu tipis, sehingga air mendidih dan menghilang sebagai uap. Namun, jejaknya masih ada: wahana penjelajah melintasi endapan berlapis yang biasanya ditinggalkan air tergenang, lalu menyimpan sampel dengan harapan suatu hari nanti sampel itu dibawa kembali ke Bumi.

Europa, Enceladus, dan Titan berbeda: ketiganya memiliki samudra, tetapi samudra itu tersembunyi. Perbedaannya terletak pada ketebalan lapisan penutup es, yang menentukan seberapa sulit air itu dijangkau.

Enceladus, kutub selatan≈5 km es
Europa≈20 km es
Titan≈100 km es

Angka-angka ini adalah perkiraan: ketebalan diukur secara tidak langsung, melalui gravitasi dan cara gaya pasang surut mengubah bentuk permukaan. Namun, keunggulan Enceladus bukan hanya lapisan esnya yang tipis. Di kutub selatannya, keraknya retak, dan samudranya menyembur ke angkasa dalam bentuk semburan uap dan debu es. Cassini terbang menembus semburan ini, dan datanya menunjukkan adanya garam, senyawa organik, hidrogen molekuler, lalu fosfat. Semua itu menandakan bahwa air di bawah sana bersentuhan dengan batuan panas. Titan adalah kasus sebaliknya: sungai dan danaunya berada tepat di permukaan, tetapi terbuat dari metana, sementara air berada jauh di bawah.

Lanjutkan membaca di aplikasi Miqo

Masih ada 1 menit bacaan, lalu kuis di akhir. Temukan di “Antariksa → Kehidupan di Alam Semesta”

Kode QR untuk mengunduh aplikasi Miqo

Arahkan kamera ponsel ke sini untuk membuka App Store atau Google Play.

Sumber

  1. Berdasarkan misi Cassini dan Galileo, penelitian tentang komposisi semburan Enceladus (hidrogen molekuler - Science, 2017
  2. fosfat - Nature, 2023), serta rencana misi Europa Clipper dan JUICE