ID
UnduhUnduh

Mengapa kamu kembali ke kebiasaan lama

Redaksi Miqo · 2 sumber

Kebiasaan lama tidak terhapus, melainkan tertutupi

Selama tiga minggu kamu tidur pukul sebelas. Lalu datang satu minggu yang berat - dan tiba-tiba kamu kembali menggulir linimasa sampai pukul dua pagi, seolah-olah tiga minggu itu tidak pernah ada. Perasaan bahwa semuanya dimulai dari awal itu menyesatkan: program yang tak pernah hilang hanya kembali aktif.

Saat kamu berhenti melakukan kebiasaan lama, otakmu tidak menghapus keterkaitan itu. Otakmu merekam keterkaitan baru di atasnya: "dalam situasi ini, sekarang caranya berbeda". Kedua program itu berjalan berdampingan dan berebut momen yang sama. Dalam berbagai eksperimen, hal ini terlihat ketika seseorang dikembalikan ke situasi tempat perilaku lama dipelajari: perilaku itu sering muncul lagi - tidak selalu dan tidak sepenuhnya, tetapi cukup jelas. Kemunculan kembali ini disebut efek pemulihan, yang dijelaskan secara mendalam oleh psikolog Mark Bouton.

Perilaku baru dipelajari secara terbatas, yaitu dalam kondisi tempat kamu melatihnya. Perilaku lama dipelajari secara luas: selama bertahun-tahun, dalam puluhan situasi. Jadi, setiap perubahan - bepergian, sakit, kedatangan tamu, dapur orang lain - membuatmu kehilangan skenario baru, sementara skenario lama sudah siap digunakan.

43%

tindakan dalam catatan harian diulang hampir setiap hari dan di tempat yang sama

Apa yang memicu skenario lama

Pemicu jarang terlihat seperti godaan. Lebih sering, pemicu itu berupa latar: kursi yang sama, waktu yang sama, orang yang sama di dekatmu, tingkat kelelahan yang sama. Semakin sedikit perhatian yang bisa kamu sisihkan - di penghujung hari, saat dikejar tenggat, atau ketika kurang tidur - semakin mudah otakmu memilih opsi yang paling terlatih. Bukan karena kamu lebih lemah pada malam hari, melainkan karena mengulang lebih mudah daripada memilih.

Lalu bagian kedua dari mekanisme ini ikut bekerja, yaitu reaksimu terhadap kegagalan. Satu malam berubah menjadi "sudah, aku tidak bisa", dan malam berikutnya tidak lagi terlindungi oleh apa pun: kalau tetap tidak berhasil, tidak ada yang bisa dijadikan pegangan. Yang lebih sering mengubah satu kejadian menjadi kembalinya kebiasaan lama adalah tafsiran ini, bukan kejadian itu sendiri.

✕ MITOS

Kamu gagal sekali - berarti tiga minggu itu hilang dan semuanya harus dimulai dari nol.

✓ FAKTA

Satu kejadian tidak menghapus keterkaitan baru; keterkaitan itu tetap sudah dipelajari. Yang hilang bukan kemajuan, melainkan keyakinan diri - dan hilangnya keyakinan itulah yang menyeret malam berikutnya.

Kesimpulannya tidak heroik: kembali ke kebiasaan lama diatasi bukan dengan kemauan, melainkan dengan mengubah kondisi. Ubah situasinya - hilangkan pemicunya. Tentukan sebelumnya apa yang akan kamu lakukan dalam situasi itu - beri program baru kesempatan untuk bekerja lebih dulu daripada program lama.

✓ LAKUKAN
  • Sebutkan sebelumnya situasi ketika kamu biasanya gagal, serta satu tindakan untuk menghadapinya
  • Ubah situasinya, bukan hanya niatmu: ruangan lain, rute lain, atau benda lain di tanganmu
  • Hitung bukan berapa hari kamu tidak gagal, melainkan seberapa cepat kamu kembali setelahnya
✕ JANGAN
  • Jangan berharap kebiasaan lama menghilang dan berhenti menarikmu kembali
  • Jangan sengaja menguji diri dalam situasi yang paling berisiko
  • Jangan menjadikan satu kejadian sebagai vonis bagi seluruh usahamu

Lanjutkan membaca di aplikasi Miqo

Masih ada 1 menit bacaan, lalu kuis di akhir. Temukan di “Psikologi → Kebiasaan”

Kode QR untuk mengunduh aplikasi Miqo

Arahkan kamera ponsel ke sini untuk membuka App Store atau Google Play.

Sumber

  1. Efek pemulihan - karya Mark Bouton tentang bagaimana suatu situasi memunculkan kembali perilaku yang telah padam. Proporsi tindakan yang berulang - penelitian berbasis catatan harian oleh Wood, Quinn & Kashy, 2002
  2. data ini merupakan laporan diri, dan proporsinya berbeda pada sampel lain