Mengapa pujian tidak melekat
Seseorang berkata, "Kamu berhasil melakukannya dengan sangat baik" - dan satu jam kemudian, pujian itu sudah tak terasa lagi. Ini bukan soal tidak tahu berterima kasih. Otakmu membandingkan pesan baru dengan apa yang sudah diketahuinya tentang dirimu, dan jika keduanya tidak cocok, lebih mudah baginya menjelaskan pesan itu daripada mengubah gambaran yang ada: dia hanya bersikap sopan, dia tidak melihat drafnya, dia hanya perlu mengatakan sesuatu.
Ini disebut verifikasi diri: pandangan yang sudah biasa tentang dirimu bertahan lebih kuat daripada pandangan yang menyenangkan. Pujian paling mudah melekat ketika kamu memang sudah percaya diri, dan paling sulit melekat ketika justru di situlah kamu paling membutuhkan dukungan. Karena alasan yang sama, mengulang kalimat seperti "Aku luar biasa" tidak meningkatkan suasana hati orang dengan harga diri rendah: dalam satu eksperimen, suasana hati mereka setelah mengulanginya bahkan lebih buruk daripada orang yang tidak mengulang apa pun.
Belum ada pengukuran yang ketat tentang ke mana pujian pergi pada detik pertama. Persentase di bawah ini bukan hasil penelitian, melainkan ilustrasi: lihat reaksi mana yang paling mirip denganmu.
Apa yang kamu lakukan terhadap pujian pada detik pertama?
Pujian atas kecerdasan bekerja seperti syarat
Alasan kedua lebih serius. "Kamu pintar", "Kamu berbakat" terdengar seperti hadiah, tetapi bekerja seperti syarat. Jika kamu dianggap pintar karena berhasil, maka ketika lain kali kamu tidak berhasil, kesimpulannya akan menyangkut dirimu, bukan tugasnya. Nilai dirimu menjadi tidak stabil: naik dan turun mengikuti hasil. Harga diri seperti ini bisa tinggi, tetapi bergantung pada hasil, dan harus terus-menerus kamu pertahankan.
Dalam eksperimen Carol Dweck dan rekan-rekannya, anak-anak dipuji dengan cara berbeda setelah menyelesaikan soal. Anak-anak yang dipuji karena kecerdasannya kemudian cenderung memilih tugas yang pasti bisa mereka selesaikan, dan setelah gagal, kinerja mereka lebih buruk. Anak-anak yang dipuji karena usahanya lebih sering memilih tugas yang lebih sulit. Pola ini berulang dalam berbagai penelitian, tetapi seberapa kuat efeknya bergantung pada sampelnya.
"Kamu pintar, kamu mampu." Penilaian atas dirimu secara keseluruhan, baik tetapi rapuh. Kesalahan berikutnya membatalkannya.
"Kamu menulis ulang ini tiga kali dan berhasil menyelesaikannya." Ini menggambarkan apa yang kamu lakukan. Kesalahan tidak membatalkan apa pun, melainkan menjadi langkah berikutnya.
Perbedaannya bukan pada kesopanan, melainkan pada apa yang tertinggal di dalam dirimu. Dari kalimat pertama, kamu membawa pulang sebuah label yang kini harus kamu pertahankan. Dari kalimat kedua, kamu mendapatkan gambaran tentang sesuatu yang bisa kamu ulangi.
Harga diri tumbuh dari yang kedua: dari bukti yang terkumpul bahwa kamu mampu mengatasi berbagai hal. Keyakinan orang lain terhadapmu tidak bisa menggantikannya, karena keyakinan itu lebih banyak berbicara tentang orang yang mengatakannya daripada tentang dirimu. Mekanismenya sendiri terlihat konsisten dalam penelitian, tetapi seberapa kuat pujian mengubah harga diri masih diperdebatkan: angkanya sangat bervariasi dari satu penelitian ke penelitian lain.
Lanjutkan membaca di aplikasi Miqo
Masih ada 1 menit bacaan, lalu kuis di akhir. Temukan di “Psikologi → Harga diri”
Arahkan kamera ponsel ke sini untuk membuka App Store atau Google Play.
Sumber
- J. Wood, E. Perunovic, dan J. Lee, Psychological Science, 2009 - pernyataan diri positif dan suasana hati pada orang dengan harga diri rendah. C. Mueller dan C. Dweck, Journal of Personality and Social Psychology, 1998 - pujian atas kecerdasan dan usaha