ID
UnduhUnduh

Mengapa kelaparan tidak terjadi semata-mata karena kekeringan

Redaksi Miqo · 3 sumber

Makanan tersedia, tetapi tidak bagi mereka yang kelaparan

Di Irlandia pada 1845-1849, penyakit hawar daun memusnahkan kentang, yang merupakan hampir satu-satunya makanan para petani penyewa miskin. Namun, biji-bijian dan ternak tetap diekspor dari negara itu untuk dijual. Para sejarawan memperdebatkan apakah jumlah yang diekspor cukup untuk memberi makan semua orang, tetapi faktanya tetap menunjukkan sesuatu: makanan melintas begitu saja di depan orang-orang yang tidak punya uang untuk membelinya.

Di Benggala pada 1943, menurut berbagai perkiraan, dua hingga tiga juta orang meninggal. Panennya lebih buruk daripada biasanya: setahun sebelumnya, siklon melanda pesisir dan padi terserang penyakit. Namun, tidak cukup parah untuk menjelaskan jumlah korban sebesar itu. Ekonom Amartya Sen menunjukkan bahwa jumlah beras di provinsi tersebut kira-kira sama seperti pada tahun-tahun normal. Yang berubah adalah hal lain: inflasi akibat perang, pembelian untuk ditimbun, dan harga yang melonjak berkali-kali lipat. Buruh harian dan perajin tidak lagi mampu membeli makanan yang tersedia di pasar.

✕ MITOS

Kelaparan dimulai ketika sebuah negara kehabisan makanan.

✓ FAKTA

Lebih sering, makanan tersedia, tetapi mengalir ke tempat orang mampu membayarnya. Mereka yang kelaparan adalah orang-orang yang tepat pada saat itu tidak mampu membayar: pekerja tanpa tanah, buruh harian, dan orang-orang yang hidup dari upah harian.

Bagaimana gagal panen berubah menjadi kelaparan

Polanya berulang dari satu kasus ke kasus lain. Panen tidak jatuh menjadi nol, melainkan berkurang sebagian, tetapi kabar tentang kelangkaan mendorong harga naik lebih cepat daripada makanan menghilang. Setelah itu, yang menentukan bukan lagi jumlah biji-bijian, melainkan seberapa cepat pendapatan tertinggal dari harga.

  1. Panen menurun. Sebagian hasil hilang, sementara sisanya dipanen dan dikirim ke tempat lain.

  2. Harga melonjak. Pedagang menahan persediaan dan pembeli menimbun, sehingga harga naik sebelum makanan habis.

  3. Pendapatan tertinggal. Orang yang tidak punya tanah membeli makanan dengan upah harian, dan setiap minggu upah itu hanya mampu membeli semakin sedikit.

  4. Makanan pergi. Makanan mengalir ke tempat orang mampu membayarnya, bukan ke tempat orang sedang kelaparan.

Mengapa di beberapa negara kekeringan berlalu tanpa kelaparan

Botswana mengalami kekeringan parah pada 1980-an tanpa kelaparan massal: pemerintah membuka program padat karya dan membagikan makanan, sehingga orang-orang punya uang untuk membeli makanan. Pada tahun-tahun yang sama, kelaparan melanda Sudan dan Ethiopia, tempat bantuan datang terlambat. Sen menyampaikannya dengan tegas: di tempat yang memiliki pemilu dan pers bebas, kelaparan massal tidak pernah terjadi, karena pemerintah yang diberitakan terpaksa merespons.

Rumus ini memiliki para pengkritik: mereka memperdebatkan apa yang bisa disebut demokrasi dan apakah makanan selalu cukup, karena dalam sebagian kelaparan persediaan memang berkurang secara nyata. Namun, pola umumnya tetap berlaku: kekeringan terus berulang, dan berubah menjadi kelaparan di tempat tidak ada yang berkewajiban memperhatikannya.

Akses terhadap makanan lebih menjelaskan kelaparan daripada total persediaan makanan

Uji dirimu1 / 2

Mengapa gagal panen dapat menyebabkan kelaparan massal?

Sumber

  1. Amartya Sen, "Kemiskinan dan Kelaparan" (1981)
  2. Jean Drèze dan Amartya Sen, "Kelaparan dan Tindakan Publik" (1989)
  3. Cormac Ó Gráda, "Kelaparan: Sejarah Singkat" (2009)

Selanjutnya di seri “Kelaparan”

2 artikel lengkap di situs, 2 lagi di aplikasi

Semua artikel

2 artikel lagi dari seri ini ada di aplikasi

Artikel-artikelnya ada di “Sejarah Kelam → Kelaparan”. Gratis.

Kuis · 10 pertanyaanSeberapa kenal kamu dengan “Kelaparan”?